Sunday, December 31, 2017

Pernah Terbangun Saat Tidur Dan Tidak Bisa Bergerak Ini Alasannya!

Kelumpuhan tidur , alasannya yakni makhluk halus? (Foto: Business Insider)

Pernahkah Anda mengalami keadaan di mana badan tidak mampu digerakan dikala sedang tidur atau setelah berdiri tidur? Kejadian mirip ini memang sangat langka tapi juga sering dialami bagi sebagian orang.

Kondisi mirip ini dalam dunia medis disebut sleep paralysis atau kelumpuhan tidur. Orang yang mengalami kelumpuhan tidur tidak dapat menggerakan tubuhnya walaupun sudah sadar. Selain itu terasa ada sesuatu yang membebani badan , paru-paru terasa diremas , dan juga tidak mampu bicara.

Sementara itu banyak orang yang percaya dengan mitos kelumpuhan tidur. Seperti ada makhluk halus yang duduk di atas tubuhnya sambil mencekik tenggorokannya sehingga mereka yang mengalami kelumpuhan tidur tak dapat bergerak atau berbicara. Tapi itu hanya mitos yang tak terbukti kebenarannya.

Kelumpuhan tidur hanya bersifat sementara dan kemudian orang yang mengalami kondisi ini akan dapat bergerak kembali. Tetapi penglaman yang dirasakan tidak akan pernah hilang. Lalu bagaimana hal itu mampu terjadi?

Seperti yang dikutip dari Business Insider , beberapa faktor sosial dapat menghipnotis prevalensi kelumpuhan tidur. Dalam sebuah studi yang menggabungkan 35 studi dengan total akseptor yang mencapai 36.000 orang , para peneliti menemukan bahwa 7 ,6% yang naik menjadi 28 ,3% dari orang yang mengalami kelumpuhan tidur yaitu mereka yang memiliki rujukan tidur yang terganggu.

Dan 31 ,9% orang yang mengalami kondisi mirip ini yakni mereka yang memiliki gangguan mental , mirip kecemasan dan depresi.

"Ketika Anda mengalami kelumpuhan tidur , Anda menjadi sadar ," kata Daniel Denis , seorang kandidat PhD dalam ilmu saraf kognitif dan peneliti di Sleep Paralysis Project , mengatakan kepada Business Insider.

Denis menjelaskan bahwa inti dari kelumpuhan tidur yakni pikiran Anda terbangun tapi badan Anda masih belum terbangun.

Kenapa tidak mampu begerak?

Tidur memiliki tiga atau empat tahap tidur non-REM (Rapid Eye Movement) dan satu REM. Di sini , REM merupakan yang paling akrab hubungannya dengan mimpi yang tampak lebih nyata.

Saat memasuki fase REM , otak tetap aktif selama fase tersebut , "hampir sebanding dengan siang hari ," terperinci Denis. Beberapa orang secara alami mengalami lumpuh selama fase REM , mungkin untuk mencegah diri dan bertindak selama bermimpi. Proses ini juga disebut REM atonia.

Banyak yang berdiri dikala fase ini dan kemudian membuka mata mereka dan dengan cepat mulai bergerak. Tapi bagi mereka yang mengalami kelumpuhan tidur , mereka diibaratkan mirip jam molekuler yang rusak , terperinci Denis.

Untuk beberapa alasan , REM atonia akan terus aktif dikala Anda sudah terbangun. Itulah yang membuat seseorang mengalami kelumpuhan tidur. Kebanyakan orang yang mengalami fase ini hanya memakan waktu beberapa detik dan satu menit. Dalam kasus lain ada yang tidak mampu bergerak selama 10-15 menit sebelum alhasil mereka mampu bergerak kembali.

Denis juga menjelaskan kemungkinan orang yang mengalami kelumpuhan tidur suka melihat bayangan aneh. Menurutnya , lobus parietal dapat memantau neuron di dalam otak yang nantinya akan memberitahu anggota badan untuk bergerak , menurut sebuah studi dari UC San Diego , yang diterbitkan dalam jurnal Medical Hypotheses. Nah , alasannya yakni badan tidak mampu bergerak selama fase kelumpuhan tidur , maka otak akan menghasilkan gerakan halusinasi pada pikiran Anda..

Pencegahan

Sementara kelumpuhan tidur dapat diturunkan secara bebuyutan , hal mirip ini juga mampu terjadi kepada siapa saja. Faktor-faktor mirip kurang tidur , gangguan tidur , jet lag , dan kerja malam dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami kelumpuhan tidur.

Selain itu kelumpuhan tidur juga dikaitkan dengan hipertensi , kejang dan narkolepsi , gangguan tidur yang membuat seseorang kehilangan kendali untuk mengatur siklus tidur sehingga membuat jam tidurnya beracakan.

Kaprikornus , untuk mencoba menghindari kelumpuhan tidur dapat dimulai dengan menghindari tidur dengan badan telentang. Hal itu dibuktikan dalam sebuah penelitian yang menybutkan bahwa orang yang tidur dengan posisi badan telentang besar kemungkinan mengalami kelumpuhan tidur hingga tiga hingga empat kali.

Tapi , jikalau Anda sudah terlanjur dan menemukan diri Anda tidak mampu begerak , sebaiknya jangan panik dan fokuskan energi pada jari kaki. Dengan memofuskan energi kepada satu titik sehingga dapat bergerak , hal itu dipercaya mampu mematahkan kelumpuhan tidur , terperinci Denis.