Wednesday, January 3, 2018

Mari Berkunjung ke Tempat Paling Favorit Bagi Orang Jepang Untuk Bunuh Diri

Kawasan hutan lindung Aokigahara di Jepang selama ini terkenal dengan dua hal. Pertama, hutan di sebelah barat Ibukota Tokyo ini menyajikan pemandangan Gunung Fuji yang cantik dengan udara yang menyegarkan. Namun, hal berikut yang membuat hutan ini menyajikan suasana angker yaitu di situlah tempat favorit untuk bunuh diri. Konon, tak sedikit jenazah orang-orang yang bunuh diri di sana tak lagi ditemukan.

Seorang pria berjulukan Taro nyaris menjadi “penghuni baru” Aokigahara. Menjadi korban PHK (pemutusan kekerabatan kerja) di suatu pabrik baja, Taro merasa hidup tak lagi berarti “Keinginan untuk hidup telah pupus,” kata Taro ibarat dikutip stasiun televisi CNN. “Saya sudah kehilangan jati diri sehingga tak mau lagi berada di dunia ini. Oleh karena itulah saya ke sana,” lanjut pria berusia 46 tahun itu, yang enggan menyebutkan nama lengkapnya



Sudah kehilangan pekerjaan, utang yang harus ditanggung Taro juga menumpuk. Dia pun diusir dari wisma milik perusahaan yang memecatnya. “Kita kan perlu uang untuk terus hidup. Kalau punya pacar, kita juga butuh uang, apalagi kalau sudah menikah. Pokoknya uang itu selalu penting seumur hidup,” kata Taro. Itulah sebabnya, suatu hari beliau membeli tiket kereta dari Tokyo menuju daerah hutan Aokigahara. Sesampai di sana, Taro tak ragu mengiris urat nadi di ujung pergelangan salah satu tangannya.

Malang bagi Taro, bunuh diri itu tak membuat beliau eksklusif tewas. Selama berhari-hari beliau terkapar di semak-semak sambil menderita kelaparan, dehidrasi dan radang cuek (frostbite). Maut tak kunjung menjemput, malah nyawa Taro berhasil diselamatkan. Itu berkat seorang penjelajah (hiker) yang tak sengaja tersandung tubuh Taro ketika sedang menikmati perjalanan di hutan Aokigahara. Kendati tak jadi mati, Taro bakal kehilangan sejumlah jari di kaki kanannya akhir menderita radang dingin. Tak jelas, sembari terbaring lemah di rumah sakit apakah Taro sesudah sembuh nanti akan tetap berusaha mengakhiri hidupnya atau malah kapok bunuh diri.



Kisah Taro itu menunjukan bahwa Hutan Aokigahara lagi-lagi dikunjungi oleh orang yang sudah merasa tak lagi punya harapan hidup. Tingkat bunuh diri tertinggi di Jepang justru berasal dari daerah hutan itu, yang juga dikenal dengan sebutan “Lautan Pohon.” Jepang sendiri sudah dikenal sebagai negara yang memiliki tingkat bunuh diri tertinggi di dunia. Dikhawatirkan, ketika krisis keuangan global sudah menjarah ke Jepang, tingkat bunuh diri di Negeri Sakura itu bisa-bisa bertambah.





Menurut data pemerintah Jepang, ibarat dikutip CNN, di bulan Januari 2009 tercatat 2.645 kasus bunuh diri. Artinya, naik 15 persen dari periode yang sama tahun 2008, ketika itu hanya 2.305 kasus. Pemerintah Jepang mengaku bahwa bunuh diri sudah menjadi prioritas utama yang harus diatasi. Bahkan, pemerintah bertekad akan mengurangi tingkat bunuh diri lebih dari 20 persen pada tahun 2016.

Masalahnya, upaya mengurangi bunuh diri ketika ini menghadapi tantangan berat. Itu karena di tengah krisis keuangan global, banyak perusahaan jatuh melarat atau sedang sekarat sehingga harus menerapkan PHK atas pekerja-pekerja ibarat Taro. Maka, pihak berwenang berupaya memperketat pengawasan di sekolah-sekolah maupun tempat-tempat kerja yang menjadi lokasi bunuh diri. Mungkin yang lebih penting yaitu sering-sering berpatroli di Hutan Aokigahara semoga tidak lagi didatangi orang-orang yang mau mengakhiri hidupnya.

“Apalagi bulan Maret ini merupakan final tahun anggaran. Bisa jadi makin banyak orang yang datang ke tempat ini karena krisis ekonomi,” kata Imasa Watanabe, pejabat Prefektur (setingkat provinsi) Yamanashi yang menguasai Hutan Aokigahara. “Maka saya bercita-cita menghentikan bunuh diri di hutan ini. Namun sulit untuk mencegah semua kasus ini,” kata Watanabe.



Ada kisah angker yang mengiringi juga. Sifat dari tempat ini sangat sepi dan Anda tidak akan mendengar apa pun kecuali hutan ketika Anda berjalan beberapa kilometer dari perbatasan. Diyakini bahwa jiwa-jiwa bingung datang ke tempat ini untuk menjerit frustrasi ke dalam angin. Para rimbawan memiliki peran mencari jenazah di hutan ini dan mereka sering menemukannya, baik tergantung di pohon atau dimakan predator.