Wednesday, February 21, 2018

FOTO VIDEO OMED-OMEDAN, FESTIVAL TRADISI CIUMAN MUDA-MUDI DI BALI SEHARI PASCA NYEPI



Sehari pascaNyepi, sebuah banjar di Desa Sesetan, Denpasar, Bali selalu menggelar tradisi unik yang hanya satu-satunya di Pulau Dewata. Banjar Kaja yang terletak di sebelah selatan kota Denpasar ini memiliki tradisi Omed-omedan atau pekan raya ciuman antar perjaka dan pemudi banjar setempat.

Tahun ini, sedikitnya 50 muda-mudi yang telah beranjak berilmu balig cukup akal turut serta dalam pekan raya warisan leluhur ini. Festival diawali dengan persembahyangan bersama di Pura Banjar dan seluruh penerima wajib mengikuti prosesi ini semoga diberi kelancaran dan keselamatan ketika ciuman nanti. Usai sembahyang para muda-mudi ini dibagi dua kelompok. Yang pertama yakni kelompok pria, dan satunya lagi yakni kelompok wanita.





Para "tetua" atau orang yang dituakan di desa tersebut menjadi "wasit" pekan raya ciuman ini. Jika para "tetua" memberi instruksi mulai! maka kedua kelompok yang saling berhadap-hadapan ini menunjuk salah satu wakilnya untuk diarak ke depan dan beradu ciuman dengan wakil dari kelompok lain. Biasanya jikalau sudah terjadi sabung mulut, penerima pria lebih agresif melumat bibir "lawan"nya yang tampak malu-malu tapi mau.

Bali

Untuk menghindari ciuman semakin panas, para tetua dibantu panitia mengguyurkan air kepada seluruh penerima omed-omedan ini. Namun, tak hanya peserta, para penonton, fotografer dan kamerawan yang mengambil gambar terlalu akrab juga harus rela untuk diguyur dengan air satu ember.

Bali

Baku cium antar muda-mudi ini dilakukan berulang-ulang sampai "wasit" menghentikannya. Sekitar satu jam pekan raya yang ditonton ribuan wisatawan dan warga ini balasannya usai. Seluruh penerima kembali ke Pura Banjar untuk diperciki air tirta.

Ayu Prambandari, salah seorang penerima omed-omedan ini sempat merasa canggung ketika berciuman dengan penerima pria alasannya tidak saling kenal. "Deg-degan sih, kan kaget dapetnya sama siapa. Kalau di sini kita tidak tahu ciuman sama siapa jadi rada canggung, kalau sama pacar kan beda," kata gadis 20 tahun ini.

Bali

Ayu yang sudah 7 kali mengikuti omed-omedan ini mengaku antusias menjadi penerima alasannya ingin melestarikan budaya yang telah diwariskan secara turun temurun ini. "Orang renta kita dulu kan juga ikut, ini sudah tabiat takutnya ntar kalau gak ikut ada apa-apa," imbuhnya.

Tradisi omed-omedan ini dimulai pada kurun ke-17. Sebelumnya tradisi ini dilakukan pada ketika hari raya Nyepi, namun pada tahun 1978 diputuskan untuk menggantinya pada ketika Ngembak Geni, atau sehari pasca Nyepi. "Tradisi ini hanya luapan kegembiraan teruna teruni pada ketika melaksanakan omed-omedan di hari ngembak geni," ujar I Gusti Ngurah Oka Putra, tokoh masyarakat Banjar kaja.

Selain bentuk penghormatan terhadap leluhur, omed-omedan ini digelar untuk semakin meningkatkan rasa kesetiakawanan dan solidaritas antar warga khususnya para perjaka dan pemudi.

kompas