Tuesday, February 20, 2018

Mark Inglis, si Pendaki Himalaya yang Hanya Berkaki Besi

kaki

Kehilangan 2 kaki tak pernah membuat Mark Inglis patah semangat. Hanya dengan mengandalkan sepasang kaki palsu, pendaki gunung asal Selandia Baru ini masih sanggup menaklukkan puncak-puncak tertinggi di dunia termasuk Mount Everest (puncak tertinggi di Himalaya).

Mark Inglis yang ketika ini berusia 51 tahun datang ke Indonesia untuk memotivasi para difabel biar tidak patah semangat menjalani hidup.

kaki

Dari cara berjalannya yang lincah, tak ada kesan sama sekali bahwa bekerjsama pria berusia 51 tahun ini tidak memiliki kaki. Namun ketika celananya agak diangkat, Mark Inglis tampak lebih menyerupai 'robot' dengan kaki palsu yang seluruhnya terbuat dari besi.

kaki

Mark, demikian ia biasa dipanggil, yakni seorang peneliti sekaligus pendaki gunung profesional yang aktif berpetualang semenjak tahun 1979. Sepanjang karirnya, pria asal Selandia Baru ini juga sering terlibat dalam kegiatan Search and Rescue (SAR).

kaki

Malapetaka menghampirinya pada tahun 1982, ketika usianya gres 23 tahun. Bersama seorang rekannya yang berjulukan Philip Doole, kedua pendaki ini terjebak dalam gua es di puncak tertinggi Selandia Baru, Mount Cook National Park yang tingginya lebih dari 3.000 mdpl.

kaki

Keduanya terjebak bukan hanya satu atau dua jam saja, melainkan hampir 2 ahad lamanya. Malang bagi Philip yang balasannya tewas dalam bencana alam itu, sementara Mark boleh bersyukur nyawanya masih terselamatkan meski kedua kakinya yang 'mati' harus diamputasi sebatas lutut alasannya yakni membeku.

kaki

Sejak ketika itu, Mark terpaksa harus menggunakan kaki palsu untuk dapat beraktivitas. Ia mengaku tak butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri sampai mampu berdiri, namun untuk mampu berjalan ia harus membiasakan diri selama bertahun-tahun.

kaki

Berkat ketekunannya, Mark balasannya mampu mendaki gunung lagi pada tahun 2002. Gunung pertama yang dijelajahinya dengan kaki palsu yakni Mount Cook di Selandia Baru, gunung yang 10 tahun sebelumnya telah menewaskan salah satu rekannya dan merampas kedua kakinya.

kaki

Sejumlah gunung tinggi ia panjat semenjak ketika itu, termasuk puncak Cho Oyu di Nepal yang tingginya 8.201 mdpl dan merupakan puncak tertinggi ke-6 di dunia. Namun yang paling mencengangkan yakni pada 2006, Mark sukses menaklukkan puncak tertinggi dunia, mana lagi jika bukan Mount Everest.

"Saya yakni pendaki gunung, kaki palsu bukan alasan untuk berhenti mendaki. Saya tidak ada kesulitan sama sekali dengan kaki palsu ini, saya mampu menggerakkannya menyerupai kaki asli," ungkap Mark ketika ditemui dalam International Conference on Prosthetics and Orthotics di Hotel Millenium, Jakarta Pusat, Jumat (25/2/2011).

Sambil sesekali mendemonstrasikan kaki palsunya, Mark menjelaskan bahwa ekspedisi ke Mount Everest ia lakukan hanya dalam waktu relatif singkat. Hanya dalam 47 hari, ia sudah berhasil menyelesaikan ekspedisi yang dilakukannya bersama 11 anggota tim lainnya.

Bagi kaum difable (different ability), kaki palsu dan alat bantu gerak lainnya sangat membantu memperbaiki kualitas hidupnya. Sayangnya, di Indonesia belum banyak yang memproduksi sehingga kebutuhan akan alat bantu gerak atau prostesis masih mengandalkan import dari luar negeri.

"Prostesis yang diproduksi di dalam negeri kira-kira masih di bawah 5 persen, selebihnya harus impor. Sumber daya manusianya juga masih terbatas alasannya yakni gres ada 2 sekolah yang mencetak tenaga profesional untuk prostesis yakni Poltekkes Surakarta dan Poltekkes Jakarta," ungkap Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih usai membuka konferensi yang gres pertama kalinya digelar di Indonesia tersebut.

Saksikan pada tayangan video berikut: