Thursday, July 19, 2018

4 Tradisi Unik Di Indonesia Saat Gerhana Matahari

Tradisi memukul kaleng (foto: metrotvnews.com)

Pada Rabu , 9 Maret 2016. Gerhana Matahari Total sudah melintasi 12 provinsi di Indonesia. Seperti Bengkulu , Sumatera Barat , Sumatera Selatan , Belitung , Jambi , Kalimantan Tengah , Kalimantan Selatan , Kalimantan Timur , Sulawesi Barat , Sulawesi Tengah , dan Maluku Utara.

Saat ini gerhana matahari total dianggap sebagai fenomena alam. Namun , bagi masyarakat Indonesia pada zaman dulu , gerhana matahari total ini dianggap sebagai peristiwa yang angker sehingga memunculkan mitos dan takhayul.

Oleh sebab itu , banyak masyarakat Indonesia yang melaksanakan tradisi-tradisi unik dalam menyambut Gerhana Matahari Total , yang diturun-menurunkan dari nenek moyang mereka. Langsung saja , berikut tradisi-tradisi unik di Indonesia untuk menyambut Gerhana Matahari Total.

4. Tradisi Meramal dan Garantung

(foto: budaya-indonesia.org)

Masyarakat di Kalimantan Tengah memilki tradisi meramal pada dikala menyambut gerhana matahari. Ada kepercayaan di kalangan masyarakat bahwa gerhana matahari total yaitu menunjukan akan terjadinya peristiwa besar.

Menurut kepercayaan warga setempat , ketika terjadi gerhana matahari total itu yaitu akhir dari perkelahian surya dengan bulan. Dan dengan memukul sebuah alat musik tradisional kawasan setempat itu , akan menimbulkan kegaduhan yang dipercaya dapat melerai dari perkelahian surya dengan bulan.

3. Tradisi Memukul Kaleng

(foto: metrotvnews.com)

Tradisi untuk menyambut gerhana matahari dengan memukul benda-benda semoga menimbulkan bunyi nyaring juga ada di Nusa Tenggara Timur. Penduduk di Pulau Timor akan memukul kaleng-kaleng bekas. Suara nyaring yang ditimbulkan itu dipercaya dapat mempercepat proses terjadinya gerhana matahari. Kebiasaan itu juga dilakukan pada dikala gerhana bulan.

2. Tradisi Gejong Lesung

(foto: kidnesia.com)

Gejong lesung yaitu tradisi khas masyarakat di Yogyakarta pada dikala proses gerhana terjadi. Lima hingga enam orang memukuli lesung (tempat menumbuk padi) dengan alu (kayu penumbuk) sehingga menimbulkan bunyi yang berirama.

Dalam kepercayaan masyarakat setempat , gerhana terjadi diakibatkan matahari dimakan raksasa Kala Rahu yang mencuri air suci yang mampu memperlihatkan hidup abadi. Namun dikala itu , air suci itu belum sempat ditelannya , kepalanya terpenggal oleh Bhatara Wisnu , sehingga membuat Kala Rahu marah dan membalas dendam dengan memakan matahari.

Lesung padi itu mewakili badan Kala Rahu , sehingga memukulinya dengan menggunakan alu dianggap mampu membuat kepala Kala Rahu akan segera memuntahkan matahari.

1. Tradisi Dolo-Dolo

(foto: antarjatim.com)

Tradisi dolo-dolo yaitu memukul kentongan dari bambu secara bersama-sama. Saat gerhana , kentongan dipukul hingga matahari kembali terang.

Konon masyarakat Maluku Utara mempercayai gerhana matahari terjadi akhir seekor naga memakan matahari hingga tidak lagi mengeluarkan cahaya. Untuk dapat mengeluarkan matahari dari lisan sang naga itu , masyarakat setempat akan membuat kebisingan dengan memukul kentongan dan memukul semua alat dapur yang dapat mengeluarkan kebisingan semoga dapat menghentikan naga itu memakan matahari.

Sumber: segiempat.com