Friday, January 5, 2018

7 Kota Paling Berbahaya di Asia

Tujuh kota sibuk di Asia ini memperlihatkan aneka macam macam godaan. Anda mampu makan dengan rakus di Taipei atau menjadi seorang pesolek di Manila. Kota-kota ini mampu menjadi alasan tersendiri untuk berdosa.

1. Kerakusan: Taipei, Taiwan

Makanan murah mampu Anda temukan di manapun, siang maupun malam.

Ada 18 jalan di Taipei yang didedikasikan hanya untuk berjualan makanan. Di tempat-tempat yang biasanya akan terdapat halte bus, di Taipei Anda akan menemukan makanan panggang. Trotoar menjadi kios penganan. Bau tahu fermentasi pun memenuhi udara.

Pasar malam di Taipei jadi terkenal alasannya yakni pilihan camilannya. Biasanya, makanan-makanan ini dikenal dengan sebutan xiaochi, yang arti harfiahnya yakni “makanan kecil”. Harga makanan kecil ini antara $ 1-2.

Perut Anda sangat mudah membuncit di kota ini.


2. Kemalasan: Seoul, Korea Selatan

Jika tidak lembur, orang-orang Korea Selatan akan menghabiskan bandwidth.

Internet di Seoul sudah ditata, dikelola, dan dirapikan sedemikian rupa sampai, saking cepatnya, orang tidak perlu bergerak ke mana-mana. Penduduk Korea Selatan mampu berjam-jam bermain World of Warcraft dengan nyaman.

Korea Selatan ada di peringkat 15 kota termalas di dunia (dan nomor satu di Asia) oleh The Daily Beast. Dan ada alasan mereka mampu menjadi lebih malas lagi.

Proposal terbaru dari pemerintah mengusulkan kemajuan teknologi digital. Alasannya yakni ajakan dari game online dan video streaming di Seoul. Pada 2012, kecepatan Internet di kota berpenduduk 39 juta orang ini mampu mencapai 1000 Mbps.


3. Kebanggaan: Manila, Philippines

Wanita-wanita Filipina terkenal akan kecantikannya. Tapi para prianya terlalu sibuk mematut-matut diri mereka sendiri di depan cermin.

Menurut penelitian terbaru dari Synovate, pria Filipina yakni yang paling narsisistik di Asia. Sekitar 48 persen dari pria-pria ini meyakini diri mereka menarik secara seksual.

Dan sekitar 9 dari 10 pria yang mencabut alisnya mengaku, mereka ingin terlihat keren untuk dirinya sendiri, bukan untuk memikat wanita.

Jika dibandingkan, hanya 25 persen pria di Singapura yang yakin dirinya atraktif. Angka itu hanya mencapai 17 persen di Cina dan Taiwan, sementara di Hongkong hanya 12 persen pria yang berpikir mereka menarik.

4. Ketamakan: Shenzhen, Cina

Saat semua orang berusaha menghemat pengeluarkan, Shenzhen tak henti-hentinya mengeluarkan miliaran dolar untuk membeli produk-produk teknologi tinggi.

Shenzhen yakni satu dari sekian banyak kota dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Pemasukan domestik bruto provinsi ini mencapai $ 42 miliar — itu artinya lebih dari PDB negara menyerupai Guatemala, Lebanon, dan empat kali lebih besar dari Islandia.

Tinggal tunggu waktu hingga ada 1 miliar jutawan di Cina. Filosofi Shenzhen berkata, kalau kau tidak mampu menghasilkan satu juta, maka hasilkanlah satu miliar.


5. Gairah: Tokyo, Jepang

Industri seks Jepang diperkirakan mencapai ¥ 2.5 triliun ($ 30 miliar), nomor dua di bawah industri otomotifnya.

Menurut penulis “Pink Box”, Joan Sinclair, “Jepang mampu memperlihatkan apa pun yang mampu Anda bayangkan.”

Dari porno yang menjijikkan hingga pelayan kafe, Tokyo menyerupai seorang pria renta berpikiran jorok di badan seorang remaja. Dan beliau memuaskan keinginan-keinginan kotornya dengan semangat seorang eksibisionis.

Tokyo yakni kota yang mampu memenuhi fetis Anda, atau daerah Anda mampu dimandikan oleh seorang cukup umur muda berseragam.


6. Iri: New Delhi, India

Pada 2010, orang India yakni emigran kedua terbesar dunia setelah Meksiko. Data ini berdasarkan Migration and Remittances Factbook 2011 dari Bank Dunia.

Ada sekitar 11,4 juta orang India yang bermigrasi untuk mencari penghidupan lebih baik. India dan ibu kotanya, New Delhi, mengalami sindrom “rumput tetangga lebih hijau” yang terparah.


7. Dendam: Pyongyang, Korea Utara

Keras kepala, suka membuka konfrontasi, antidamai... ibu kota Korea Utara menyerupai cukup umur labil Asia. Tetapi, tidak menyerupai cukup umur yang suka mengekspresikan rasa ketidakamanan mereka dengan menindik bab badan atau mewarnai rambut, Korea Utara lebih suka menenggelamkan kapal atau menembaki pulau-pulau dengan peluru.

Olahraga nasional Korea Utara yakni Taekwondo. Jika terjadi kekurangan pangan, maka militerlah yang lebih dulu dilayani. Film-film propaganda terus-menerus berbicara wacana kekuatan tak terlihat tentara Korea Utara. Poster-poster di Pyongyang juga berpesan, “Kedamaian ada di ujung bayonet.”

Dengan penduduk sekitar 24 juta orang, Korea Utara memiliki 1 juta tentara.

sumber:
yahoo