Thursday, January 4, 2018

Jawaban Elegan Dari Seorang TUKANG BAKSO (Sebuah Renungan)

Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang sedang berguru menggambar peta, juga mewarnai. Hujan rintik rintik selalu menyertai di setiap sore di isu terkini hujan ini.

Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor,...terdengar bunyi tek...tekk.. .tek...suara tukang bakso dorong lewat. Sambil menyeka keringat..., ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak - anak, siapa yang mau bakso ?

"Mauuuuuuuuu. ...", secara serempak dan kompak anak - anak asuhku menjawab.

Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya. ...

Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini saat saya
membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kudapan manis semacam kencleng. Lalu saya bertanya atas rasa penasaranku selama ini.

"Mang kalo boleh tahu, kenapa uang - uang itu Emang pisahkan? Barangkali ada tujuan ?" "Iya pak, Emang sudah memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, Emang hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak Emang, mana yang menjadi hak orang lain / kawasan ibadah, dan mana yang menjadi hak cita รข€“ cita penyempurnaan kepercayaan ".

"Maksudnya.. ...?", saya melanjutkan bertanya.

"Iya Pak, kan agama dan Tuhan menganjurkan kita semoga bisa menyebarkan dengan sesama. Emang membagi 3, dengan pembagian sebagai berikut :

1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari - hari Emang dan keluarga.

2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk melakukan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso, Emang selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.

3. Uang yang masuk ke kencleng, karena emang ingin menyempurnakan agama yang Emang pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu, untuk melakukan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar. Maka Emang berdiskusi dengan istri dan istri menyetujui bahwa di setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini, Emang harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan insya Yang Mahakuasa selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi Emang dan istri akan melakukan ibadah haji.

Hatiku sangat...... .....sangat tersentuh mendengar balasan itu. Sungguh sebuah balasan sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si emang tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan rencana cantik dalam hidup ibarat itu. Dan seringkali berlindung di balik tidak bisa atau belum ada rejeki.

Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : "Iya memang bagus...,tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu, termasuk memiliki kemampuan dalam biaya....".

Ia menjawab, " Itulah sebabnya Pak. Emang justru aib jika bicara soal bisa atau tidak bisa ini. Karena definisi bisa bukan hak pak RT atau pak RW, bukan hak pak Camat ataupun MUI.

Definisi "mampu" ialah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi insan tidak mampu. Sebaliknya jika kita mendefinisikan diri sendiri, "mampu", maka Insya Yang Mahakuasa dengan segala kekuasaan dan kewenangannya Yang Mahakuasa akan memberi kemampuan pada kita".

"Masya Allah..., sebuah balasan elegan dari seorang tukang bakso".

Sumber