Nampaknya lembaga penyalur donor tak hanya giat membantu si miskin. Tapi juga tak segan dagang cerita duka yang masih dipertanyakan kebenarnya wacana kekejaman Indonesia kepada Timor Leste. Nuansanya sangat kental propaganda politis memojokkan Indonesia. Hanya bertolak dari legalisasi sepihak yang jadi mitra social business.
Laporan Program Pembangunan PBB, atau UNDP, itu mengatakan tidak banyak lapangan kerja yang tersedia di Timor Leste kecuali di sektor pertanian. Sekitar 40% dari penduduk negara ini hidup di bawah garis kemiskinan, dan pendidikan serta pelayanan kesehatan masih belum memadai.
Rakyat Timor Leste memilih untuk menjadi negara merdeka sembilan tahun lampau setelah perang panjang dengan Indonesia. Kurang lebih 90 bayi di antara 1.000 bayi meninggal sebelum berusia setahun dan sedikit dari mereka yang menerima imunisasi. Separuh penduduknya yang berjumlah kurang dari satu juta itu tidak mampu menerima air minum yang bersih, dan lapangan kerja yang tersedia sangat sedikit.
Faktor besar yang mampu mengubah keadaan ini ialah penandatanganan persetujuan bagi hasil minyak pada bulan Januari tahun lalu dengan Australia. Pertikaian antara kedua negara itu menimbulkan gangguan relasi dalam tahun-tahun belakangan ini, tetapi sekarang Timor Leste harus mampu mandapatkan keuntungan dari pendapat minyak.
Eksplorasi minyak ini merupakan kesempatan besar pertama di bidang ekonomi semenjak perang dengan Indonesia berakhir dengan kemerdekaan.
Kegagalan perekonomian hingga sekarang merupakan kenyataan yang mengecewakan bagi orang-orang yang mengkampanyekan kemerdekaan