Monday, February 19, 2018

Evarcha Culicivora, Inilah Mahluk Mengerikan Penghisap Darah Dari Afrika

laba

Dari penelitian terakhir, diketahui bahwa sebuah spesies laba-laba yang mangsa utamanya yakni nyamuk pembawa penyakit malaria, yakni Anopheles gambiae, sangat tertarik dengan bacin keringat di kaus kaki.

Peneliti asal Inggris dan Kenya membuktikannya dalam sebuah eksperimen. Mereka menggunakan kaus kaki bekas pakai untuk mengetahui apakah laba-laba yang dimaksud juga memiliki sifat yang sama dengan sifat mangsanya, yakni tertarik dengan bau-bauan dari manusia.

Ternyata, laba-laba lompat tampak telah menyebarkan ketertarikan terhadap bacin kaki insan untuk membantu mereka menemukan mangsa. Temuan ini dilaporkan pada jurnal Biology Letters.

laba

Menurut peneliti, insan kini mampu ‘merekrut’ Evarcha culicivora, laba-laba lompat Afrika Timur tersebut, dalam memerangi malaria. Caranya dengan mengajak laba-laba itu tinggal di rumah yang dipenuhi dengan kaus kaki bau.

Fiona Cross, peneliti dari University of Canterbury, Inggris dan Robert Jackson, dari International Centre of Insect Physiology and Ecology, Kenya melaksanakan penelitian tersebut. Mereka tertarik meneliti spesies laba-laba itu alasannya yakni laba-laba itu merupakan pemangsa satu-satunya yang secara spesifik memangsa nyamuk penyebab malaria tersebut.

“Kami memiliki kecurigaan bahwa bacin insan sangat menarik bagi laba-laba sebelum melaksanakan eksperimen ini,” kata Cross, ibarat dikutip dari BBC, 21 Februari 2011. “Padahal umumnya, laba-laba ini tinggal di rerumputan tinggi di luar rumah atau di gedung-gedung yang ditinggali manusia."

Untuk menunjukan kecurigaan itu, mereka merancang peralatan eksperimen berbasis aroma yang disebut sebagai olfactometer. Mereka kemudian menempatkan laba-laba uji dalam sebuah wadah. Udara kemudian dipompakan ke masing-masing wadah. Masing-masing udara datang dari kotak yang berisi kaus kaki bersih dan kaus kaki bekas dipakai yang memiliki bacin keringat kaki manusia.

Bagi tiap laba-laba, peneliti juga menyediakan pintu darurat semoga mereka mampu melarikan diri kapan saja ke ruangan yang tidak diberi bacin apapun.

“Ternyata, laba-laba yang diberi aroma kaus kaki bacin betah berlama-lama di ruangan yang dihembuskan bacin tersebut, dibandingkan laba-laba yang dihembuskan bacin kaus kaki yang gres dicuci,” kata Cross. “Kenyataan bahwa laba-laba menemukan bahwa bacin insan sangat menarik belum pernah diketahui sebelumnya."

Cross menyebutkan, penemuan ini berkaitan dengan perilaku lain laba-laba ini. “Saat mereka menemukan bacin darah, mereka mampu menjadi sangat rakus dan mampu membunuh sampai 20 nyamuk secara terus menerus, meski tidak memakan seluruhnya,” ucapnya.

Saat ini, kata Cross, mereka perlu mempelajari lebih lanjut perilaku ibarat itu. “Mereka menjadi gila dikala berada di sekeliling nyamuk yang sudah menghisap darah,” ucapnya.

Meski kedengarannya mengerikan, kedua peneliti yakin bahwa makhluk haus darah itu mampu membantu insan dalam memenangkan pertempuran kompleks melawan malaria. “Laba-laba itu ada di lingkungan dan tersedia secara gratis,” kata Cross. “Lalu kenapa tidak kita mencari cara untuk memanfaatkan predator menarik ini?”

Cross dan rekan-rekannya kini mencari cara bagaimana insan mampu mengundang laba-laba ini ke dalam rumah tanpa mengundang pula nyamuk. “Di tempat yang dilanda wabah malaria, orang-orang perlu menyambut kedatangan makhluk tersebut ke dalam rumahnya,” ucapnya.

source: