Wednesday, February 21, 2018

Taukahkamu; Jika Anda Tertawa di Hadapan Kera, Kera Tersebut Pasti Ikut Tertawa

Simpanse

Simpanse menggandakan tawa sahabat bermain mereka walaupun mereka belum tentu menganggap situasinya lucu.

Penelitian gres University of Portsmouth, yang diterbitkan dalam jurnal Emotion, pertanda jikalau simpanse tidak hanya menirukan lisan sahabat bersosialisasi mereka. Respons simpanse punya arti sosial dan emosional. Hasil ini menawarkan jikalau simpanse menggunakan lisan untuk keperluan sosial yang lebih kompleks daripada yang sudah diperkirakan sebelumnya.

Studi dilakukan dengan meneliti tawa 59 simpanse yang hidup dalam 4 grup di Chimfunshi Wildlife Orphanage di Zambia. Dua grup sudah terbentuk lebih dari 14 tahun, sedangkan 2 grup lainnya gres terbentuk kurang dari 5 tahun.

Pemimpin studi Dr. Marina Davila-Ross menjelaskan, dalam kelompok yang gres dibentuk, simpanse lebih sering menirukan tawa dibandingkan dalam kelompok yang sudah lama terbentuk. "Hal ini menawarkan jikalau menirukan tawa punya tugas khusus dalam mempererat hubungan," terang Davila-Ross. "Saya tidak menyangka akan menemukan perbedaan antara tawa responsif dan tawa spontan," kata Davila-Ross lebih lanjut. Tawa responsif bisa dibilang tawa "basa-basi".

Davila-Ross juga menjelaskan jikalau insan juga memiliki tawa "basa-basi". "Tawa ibarat itu biasanya lebih pendek daripada tawa spontan dan sepertinya memang dilakukan untuk interaksi sosial," terang jago tingkah laku biologi dari Department of Psychology, University of Porstmouth.

Hanya saja, tawa "basa-basi" ini berbeda dengan tawa palsu. "Hanya insan yang bisa melaksanakan tawa palsu," kata Davila-Ross. Selain itu, insan bisa mengekspresikan tawa dalam banyak sekali situasi. Kera berbeda. Para ilmuwan menemui jikalau simpanse tertawa pada dikala bermain dan saling menggelitik.

Davila-Ross mengatakan jikalau studi yang akan datang harus menyelidiki relasi antara kemampuan sosial dengan penggunaan lisan emosi. "Ujungnya," kata Davila-Ross, "kita bisa mengetahui asal mula bahasa."

nationalgeographic