Thursday, December 7, 2017

Wah, Ternyata Buah Impor Penyebab Generasi Alay

Harga buah impor terkadang lebih murah dibanding buah lokal. Apalagi, pengemasannya lebih menggiurkan, warna lebih menarik. Kita mungkin sering lihat di pasar swalayan, kan?

"Harga buah impor yang dijual di supermarket Indonesia kadang lebih murah dibanding harga di negara asalnya. Hal ini tentu saja membuat kita heran sekaligus bertanya, mengapa buah tersebut bisa dijual dengan harga murah?" kata Pakar Keamanan Pangan dan Gizi Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor Prof Ahmad Sulaeman.

Tapi hati-hati, ternyata buah impor banyak yang dilapisi lilin. Tujuannya biar tahan selama berbulan-bulan, bahkan ada yang hingga dua tahun. "Dalam lilin itu juga ditambahkan fungisida biar buah tidak berjamur," ujarnya.

Hasil dari banyak sekali penelitian menawarkan bahwa fungisida yang biasa ditambahkan yaitu jenis fincocillin yang bersifat anti-androgenic yang sama sifatnya ibarat DDT (Dichloro-Diphenyl-Trichloroethane). Anti-androgenic ini, katanya, menyebabkan efek mandul pada serangga.

Jadi Alay dan Banci
Dari banyak sekali penelitian, katanya, orang yang mengonsumsi pangan yang mengandung residu pestisida, walaupun dalam kandungan yang rendah tenyata bisa menyebabkan demaskulinisasi. Hal ini bisa mengganggu perkembangan organ reproduksinya.

Karenanya, kata dia, tidak mengherankan bila sekarang banyak bencong atau kaum alay. Padahal kalau menengok tahun 1960-an, yang disebut bencong itu yaitu mereka yang punya kelamin ganda.

Misalnya, pelari nasional dari Tasikmalaya kesannya mengubah kelaminnya menjadi laki-laki, alasannya semenjak dilahirkan ia memiliki kelamin ganda. Sementara pada zaman sekarang, para bencong ini berawal dari laki-laki tulen, tapi lambat laun sifatnya kemayu dan kecenderungan sosialnya ke sesama laki-laki. "Itu terjadi setelah 30-40 tahun penggunaan pestisida atau revolusi hijau pertama," katanya.

Menurut dia, harus diakui bahwa banyaknya macam-macam alay sekarang ini yaitu dampak dari revolusi hijau pertama, dan kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga terjadi di sejumlah negara.

Akibat Lain: Autis dan Leukimia
Dampak lain dari pestisida yaitu pada anak-anak. Ia mengemukakan, banyak anak yang gres minum ASI (air susu ibu) saja bisa keracunan DDT, jawaban sang ibu mengkonsumsi sayur dan buah yang terpapar pestisida. Hal ini dapat mengganggu perkembangan mental dan kognitif anak.

Ahmad menjelaskan, satu penelitian di negara Meksiko yang membandingkan anak yang biasa mengkonsumsi pangan organik (tanpa pestisida) dan non-organik (disemprot pestisida).

Hasilnya, kata dia, anak yang selalu terpapar pestisida tidak bisa menggambar, sekalipun gambar garis yang sederhana. Sebaliknya, anak yang biasa mengkonsumsi pangan organik disebutkan bisa menggambar dengan bagus.

Kemudian beberapa risiko penyakit juga dimungkinkan berkembang pada anak yang dilahirkan dari ibunya yang terpapar pestisida, ibarat penyakit leukemia dan termasuk autis.

Nah, cintai produk dalam negeri, deh... :)