Sang Mandor merasa sedih, alasannya ialah ia akan kehilangan salah satu tukang kayu terbaiknya, hebat bangunan yang handal yang ia miliki dalam timnya. Namun ia juga tidak mampu memaksa. Sebagai ajakan terakhir sebelum tukang kayu renta ini berhenti, sang mandor memintanya untuk sekali lagi membangun sebuah rumah untuk terakhir kalinya.
Dengan berat hati si tukang kayu menyanggupi namun ia berkata karena ia sudah berniat untuk pensiun maka ia akan mengerjakannya tidak dengan segenap hati. Sang mandor hanya tersenyum dan berkata, "Kerjakanlah dengan yang terbaik yang kau bisa. Kamu bebas membangun dengan semua materi terbaik yang ada."
Tukang kayu lalu memulai pekerjaan terakhirnya. Ia begitu malas-malasan. Ia asal-asalan membuat rangka bangunan, ia malas mencari, maka ia gunakan bahan-bahan berkualitas rendah. Sayang sekali, ia memilih cara yang buruk untuk mengakhiri karirnya.
Saat rumah itu selesai. Sang mandor datang untuk memeriksa. Saat sang mandor memegang daun pintu depan, ia berbalik dan berkata, "Ini ialah rumahmu, hadiah dariku untukmu!" Betapa terkejutnya si tukang kayu. Ia sangat menyesal. Kalau saja sejak
awal ia tahu bahwa ia sedang membangun rumahnya, ia akan mengerjakannya dengan
sungguh-sungguh. Sekarang akibatnya, ia harus tinggal di rumah yang ia berdiri dengan asal-asalan. Inilah refleksi hidup kita!
Pikirkanlah kisah si tukang kayu ini. Anggaplah rumah itu sama dengan kehidupan Kamu. Setiap kali Kamu memalu paku, memasang rangka, memasang keramik, lakukanlah apa yang Kamu kerjakan untuk kehidupanmu dengan segenap hati dan bijaksana.
Sebab kehidupanmu ketika ini ialah jawaban dari pilihanmu di masa lalu.
Masa depanmu adalalah hasil dari keputusanmu ketika ini.
Silahkan SHARE ke teman, saudara dan keluarga kita cintai jikalau menurut kalian, dongeng kisah tukang kayu ini bermanfaat :) ♥